Kembali ke Berita Artikel

ISLAM DAN PERADABAN

ISLAM DAN PERADABAN

Oleh: AM. Efendi, M. Si (Pengajar MTs. Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo) “Islam adalah agama dan peradaban, sebab al-Qur’an tidak hanya mengajarkan doktrin teologis dan ritual keagamaan saja, tapi juga memproyeksikan suatu pandangan hidup rasional yang kaya dengan berbagai konsep seminal (khususnya tentang ilmu pengetahuan) yang menjadi asas kehidupan individu maupun sosial sehingga berkembang menjadi suatu peradaban. Artinya, Islam adalah sebuah dîn yang telah berkembang m

Oleh: AM. Efendi, M. Si

(Pengajar MTs. Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo)

“Islam adalah agama dan peradaban, sebab al-Qur’an tidak hanya mengajarkan doktrin teologis dan ritual keagamaan saja, tapi juga memproyeksikan suatu pandangan hidup rasional yang kaya dengan berbagai konsep seminal (khususnya tentang ilmu pengetahuan) yang menjadi asas kehidupan individu maupun sosial sehingga berkembang menjadi suatu peradaban. Artinya, Islam adalah sebuah dîn yang telah berkembang menjadi tamaddun atau peradaban.”

(Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil)

Alloh SWT menyatakan dalam firman-Nya bahwa hanyalah Islam satu-satunya Din dan syariat yang diterima di sisi-Nya, yaitu ittiba’ kepada seluruh utusan di setiap masa yang ditutup dengan Rasulullah SAW. Sebagai sebuah risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, Dienul Islam tidak hanya sebagai agama saja, namun juga terkandung makna sistem kehidupan yang teratur berdasarkan hukum dan keadilan. Hal ini merujuk kepada akar kata Dîn yang dibentuk menjadi akar kata baru, yaitu madana (membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan, dan memartabatkan) dengan kata benda tamaddun yang berarti peradaban, yang berarti kota berlandaskan kebudayaan atau tempat yang dibangun atas dasar agama.

Sebagai sebuah peradaban, Islam dilandasi oleh Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pijakan dasar dalam membangun bangunan peradaban yang kaya akan keilmuan. Sebagaimana wahyu pertama, yaitu surat Al Alaq 1-5 yang turun sebagai penegas nubuwah Nabi Muhammad SAW, sekaligus pendorong aktivitas bangkitnya tradisi keilmuan dalam peradaban Islam yang menyatukan antara keilmuan (iqra’ & qalam), keimanan (rabb) dan amal (khalaq). Dan juga aktivitas Rasulullah SAW dalam mengamati langit di sepertiga malam yang akhir, merupakan bukti nyata bahwa tradisi keilmuan dalam peradaban Islam tidak lepas dari ketauhidan.

Bila kita menengok kepada sejarah keilmuan di Barat, akan kita jumpai adanya pemisahan antara ilmu dengan agama (sekulerisasi). Hal ini disebabkan adanya hubungan yang tidak harmonis antar keduanya, di mana aktivitas rasional para ilmuwan bertentangan dengan dogma agama, sehingga butuh sekulerisasi atau pemisahan keduanya yang berujung pada keilmuan yang jauh dari Tuhan. Sedangkan peradaban Islam yang kaya akan berbagai disiplin keilmuan hasil dari kerja besar para ilmuwan muwahhid dari berbagai perbedaan spesialisasi, latar belakang budaya, sosial, negara, wilayah, madzhab, dll., justru mampu mengharmonisasikan ketauhidan dengan keilmuan yang menghasilkan berbagai disiplin ilmu yang berlandaskan pandangan hidup muslim.

Jadi, konsep sekulerisasi keilmuan, boleh jadi, sangat tepat bila diterapkan di Barat, mengingat kesejarahan hubungan antara sains dengan agama. Namun, bila ingin memaksakan konsep atau menggeneralisir sejarah kelam sains di Barat ke dalam aktivitas keilmuan muslim, atau bahkan dimunculkan anggapan bila tradisi keilmuan dalam peradaban Islam mengalami kemunduran, disebabkan enggannya kaum muslim untuk melakukan proses sekulerisasi adalah tidak benar dan tidak pula tepat. Bila hal ini terjadi, secara tidak langsung menuduh ajaran Islam hanya dianggap sebagai dogma yang anti terhadap ilmu atau sains.

Lahirnya keilmuan dalam Islam bersumber pada pandangan hidup Islam dari penjelasan Rasulullah SAW terhadap Al Qur’an yang terbagi pada dua periode, yaitu pertama, Makkah yang berkaitan dengan prinsip dasar aqidah, ketuhanan, kenabian, pembalasan, penciptaan, ilmu, nubuwah, ibadah dan lain-lain, dan kedua, Madinah yang berkaitan dengan konsep praktikal sebagai kerangka konsep keilmuan seperti peribadatan, sistem hukum individu, sosial, keluarga, hukum jihad, nikah, waris, relasi antar muslim dan non-muslim. Kemudian dilanjutkan dengan kesadaran tentang bahwa wahyu mengandung struktur konsep yang fundamental seperti konsep dunia, ilmu pengetahuan, etika dan manusia serta kesadaran bahwa wahyu mengandung istilah-istilah konsep seperti ilmu, iman, fiqh, kalam, tafsir dan lain-lain sebagai kerangka awal ilmu dan dasar pandangan Islam. Setelah itu lahirnya tradisi keilmuan dan intelektual dalam Islam dan muncul komunitas ilmuwan seperti Ashabus Shuffah (Sahabat yang tinggal di serambi masjid) di Madinah yang mengkaji wahyu dan hadits. Dan periode ini dilanjutkan dengan lahirnya disiplin ilmu dalam Islam.

Perlu kiranya disebutkan tentang ilustrasi-ilustrasi sumbangan Islam bagi peradaban-peradaban dunia. Di Jazirah Arab, Islam melahirkan (a) kurang lebih 65 penulis wahyu yang dipimpin oleh Zait bin Tsabit sehingga proses penulisan, pembukuan, penyeragaman bacaan hingga penambahan tanda baca al Qur’an, pada masa setelahnya mampu menjaga keautentikan al Qur’an. Juga Abdullah bin Amr bin Ash yang dikenal sebagai penulis hadits Nabi SAW dan memiliki shuhuf yang di dalamnya ditulis apa yang didengar dari Rasulullah SAW yang dinamai Shahifah Shadiqah. Juga pada masa Umar bin Abdul Aziz, pembukuan hadits memasuki periode yang menggembirakan. Selain dua tokoh di atas, juga lahir (b) Abdullah bin Abbas sebagai ahli tafsir utama, (c) Abu Huroirah sebagai perowi hadits terbanyak, (d) Amr bin Ash sebagai inisiator isolasi ke gunung-gunung pada wabah Thaun.

Di Benua Afrika, Islam melahirkan (a) Abdurrahman bin Khaldun dengan Al ‘Ibar wa Diwan Al Mubtada’ wa Al Khabar Fie Ayyami Al ‘Arab wa Al ‘Ajam wa Al Barbar wa Man ‘Asharahum Min Dzawi Al Sulthan Al Akbar-nya yang membahas tentang ilmu sejarah, (b) Muhammad Al Idrisi dalam bidang Geografi, sang pembuat globe dengan Nuzhah Al Musytaq Fie Ikhtira’ Al Afaq-nya yang membahas tentang iklim dan juga pembagian bumi, (c) Abu Ustman Amr bin Bahr Al Jahidz, Zoolog muslim pertama dengan Kitabul Hayawan-nya yang membahas tentang ilmu hewan.

Di Persia, Islam melahirkan (a) Amirul Mukminin Fie Al Hadits, Muhammad bin Ismail Al Bukhari dengan Al Jami’ Al Musnad Al Shahih Al Mukhtashar min Umur Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallama wa Sunanihi wa Ayyamihi-nya yang membahas hadits-hadits shahih seputar perkara-perkara, kehidupan dan Sunnah Nabi SAW, (b) Bapak Sejarah, Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabary dengan Tarikh Al Umam wa Al Muluk-nya yang membahas tentang sejarah dan berbagai peristiwa, (c) Abul Husain bin Abdillah bin Ali bin Sina dengan Al Qanuun fie Ath Thib-nya yang membahas tentang kaidah umum dan khusus dalam kedokteran. Tidak ketinggalan juga (d) Abu Hanifah Ahmad bin Dawud Ad Dinawary dengan Kitab An Nabat-nya yang membahas tentang tanaman.

Di Eropa, Islam juga melahirkan (a) Filosuf berkemajuan Muhammad bin Rusyd dengan Fashl Al Maqal-nya yang membahas tentang sinergitas antara Syariat dan Filsafat, (b) Muhammad bin Ahmad Al Qurthuby, sang mufassir dengan Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an-nya dengan menuliskan komentar singkat yang berisi tafsir dari kitabullah, (c) Abul Qasim Al Majrithi, ahli kimia dengan Rutbatul Hakim-nya yang membahas tentang kimia.

Tidak ketinggalan pula, Islam juga melahirkan para ulama dan ilmuan di Nusantara pada abad ke-17 seperti (a) Nuruddin Ar Raniri dengan Bustanus Salathin-nya, (b) Abdur Rauf As Sinkily dengan Tarjuman al Mustafidz-nya, juga pada abad ke-18 seperti (a) Abdus Shomad Al Palembangi dengan Nasihat Muslimin-nya, (b) Syeikh Arsyad Al Banjary dengan Sabil Al Muhtadin-nya dll. Tak terlupakan juga, dua tokoh organisasi terbesar di Nusantara yaitu (a) KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya yang lahir pada 1912 dan (b) KH. Hasyim Asy’ary dengan Nahdhatul Ulama-nya yang lahir pada 1926.

Akhirnya, apa yang telah dihasilkan kaum muslimin di berbagai belahan bumi ini menjadi bukti bahwa mereka mengamalkan semua cabang iman dan syari’at Islam dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Usaha-usaha tersebut bagaikan syajarah thayyibah yang akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, yang menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Alloh SWT. Maka benarlah apa yang difirmankan Alloh SWT, udkhuluu fie silmi kaffah.

Maraji’

Al Bukhari, Muhammad bin Ismail. 2012. Al Jami’ Al Musnad Al Shahih Al Mukhtashar min Umur Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallama wa Sunanihi wa Ayyamihi. Pakistan: Al Busyra.

Ad Dinawary, Ahmad bin Dawud. 1984. Kitab An Nabat. Beirut: Daar Al Qalam.

Ad Dzahabi, Muhammad Husain. 2012. At Tafsir wa Al Mufassirun. Qahirah: Daar Al Hadits.

Al Jahidz, Amr bin Bahr. 1965. Kitab Al Hayawan. Mesir: Maktabah Musthofa Al Halby.

Al Khatib, Muhammad Ajaj. 1982. Abu Hurairah Rawiyatul Islam. Damaskus: Maktabah Wahbah.

Al Qurthuby, Muhammad bin Bin Ahmad. 2006. Al Jami’ Lie Ahkam Al Qur’an. Beirut: Muassasah Ar Risalah.

Ash Shallabi, Ali Muhammad. 2014. Biografi Umar bin Al Khattab. Jakarta: Penerbit Al Kautsar.

Abu Syuhbah, Muhammad. 1999. Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadits Dan Biografi Para Penulisnya. Surabaya: Pustaka Progresif.

As Sibai, Musthofa. 2006. As Sunnah wa Makanatuha Fie At Tarikh At Tasyri’. Qahirah: Daar As Salam.

Ath Thabary, Abu Ja’far bin Jarir. 2007. Tarikh Al Umam wa Al Muluk. Beirut: Daar Ibn Katsir.

Azami, Muhammad Musthofa. 2022. Hadits Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya. Pasar Minggu: Pustaka Firdaus.

________. 2005. Sejarah Teks Al Qur’an Dari Wahyu Sampai Kompilasi Kajian Perbandingan Dengan Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru. Jakarta: Gema Insani.

Bin Idris, Muhammad. 2002. Nuzhah An Musytaaq Fie Ikhtira’ Al Afaq. Qahirah: Maktabah Ats Saqafah Ad Diniyah.

Ibn Katsir, Ismail. 2012. Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim. Mesir: Daar Al ‘Alamiyah.

Bin Khaldun, Abdurrahman. 2001. Muqaddimah ibn Khaldun. Beirut: Daar Al Fikr.

Bin Rusyd, Muhammad. 1997. Fashl Al Maqal Fie Taqrir ma baina Asy Syari’ati wa Al Hikmah min Al Ittishal. Beirut: Markaz Dirosah Al Wihdah Al Arabiyah.

Bin Sina, Ali. 1999. Al Qanuun fie Ath Thib. Beirut: Daar Al Kutub Al Alamiyah.

Zarkasyi, Hamid Fahmi. 2016. Islamic Science Paradigma, Fakta dan Agenda. Jakarta Selatan: INSIST.

muhammadiyah.or.id
www.nu.or.id
https://kitabpedia.com

Bagikan: